
LENSAINVESTIGATOR.COM – Dewan Pengurus Mahasiswa Pencinta Alam (Mahacala) Universitas Halu Oleo (UHO) akhirnya menyampaikan penjelasan resmi terkait dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) XXXV Mapala se-Indonesia.
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan pada Selasa (27/10/2026), Mahacala UHO menjelaskan sejumlah persoalan yang berkembang selama kegiatan, mulai dari pengambilalihan sidang pleno, isu pengusiran peserta, biaya pendaftaran, hingga pelaksanaan agenda Kenal Medan.
Ketua Panitia TWKM XXXV, Muhammad Kurniawan, menegaskan bahwa pengambilalihan sidang pleno oleh steering committee dilakukan setelah persidangan mengalami kebuntuan atau deadlock.
Kebuntuan tersebut dipicu perbedaan pandangan mengenai klausul pembentukan Presiden Mapala se-Indonesia beserta perangkat organisasinya, termasuk gubernur dan struktur lainnya.
Mahacala UHO menilai, pembentukan struktur yang mengatasnamakan seluruh organisasi Mapala se-Indonesia harus memiliki legitimasi dan dasar keterwakilan yang jelas.
Menurut panitia, kehadiran sejumlah delegasi dalam TWKM XXXV tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai mandat untuk mewakili seluruh organisasi Mapala di Indonesia.
“Mahacala UHO berpandangan bahwa pembentukan struktur yang mengatasnamakan Mapala se-Indonesia harus didasarkan pada legitimasi dan keterwakilan organisasi yang jelas,” demikian penjelasan resmi panitia.
Mahacala juga menegaskan bahwa TWKM semestinya tetap berfokus pada tujuan awalnya, yakni menjadi ruang silaturahmi, pertukaran gagasan, penguatan gerakan konservasi, serta perumusan rekomendasi konkret bagi pelestarian lingkungan.
Panitia menilai persoalan lingkungan, seperti kebakaran hutan dan lahan, kerusakan ekosistem, serta kontribusi organisasi pencinta alam dalam menjaga kelestarian lingkungan, seharusnya mendapatkan porsi pembahasan utama dalam forum nasional tersebut.
Menolak Perubahan Arah TWKM
Dalam latar belakang pernyataannya, Mahacala UHO mengingatkan kembali sejarah penyelenggaraan TWKM, termasuk ketika organisasi tersebut menjadi tuan rumah pada 1996.
Mahacala menyebut, pada penyelenggaraan saat itu terdapat penolakan terhadap pembentukan Pusat Koordinasi Nasional (PKN), termasuk perangkat keorganisasiannya.
Mahacala menilai perkembangan TWKM belakangan ini perlu dikaji kembali agar forum tersebut tidak bergeser menjadi organisasi permanen yang memiliki struktur kepemimpinan tersendiri dan bertindak atas nama organisasi Mapala secara nasional.
Sikap tersebut menjadi salah satu latar belakang keberatan Mahacala terhadap dorongan pembentukan Presiden Mapala se-Indonesia dalam sidang TWKM XXXV.
Bagi Mahacala, setiap organisasi Mapala memiliki kemandirian dan identitas masing-masing. Karena itu, pembentukan struktur bersama yang membawa nama seluruh organisasi membutuhkan legitimasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bantah Ada Pengusiran Peserta
Selain persoalan sidang pleno, Mahacala UHO turut membantah informasi mengenai dugaan pengusiran peserta dari lokasi Temu Wicara.
Panitia menegaskan tidak pernah melakukan pengusiran terhadap peserta selama kegiatan berlangsung.
Mahacala menyatakan tetap menghormati seluruh delegasi sebagai bagian dari keluarga besar Mapala se-Indonesia. Perbedaan pendapat dalam persidangan, menurut panitia, semestinya diselesaikan melalui komunikasi yang konstruktif tanpa menghilangkan nilai persaudaraan.
Panitia juga meminta agar informasi yang beredar di ruang publik merujuk pada kronologi dan fakta secara utuh guna menghindari kesalahpahaman ant organisasi.
Tegaskan Registrasi Gratis
Terkait biaya pendaftaran, Mahacala UHO memastikan bahwa registrasi peserta TWKM XXXV tidak dipungut biaya.
Keputusan tersebut, menurut panitia, telah disampaikan kepada peserta sehari sebelum pembukaan kegiatan.
Bagi delegasi yang telanjur mengirimkan uang registrasi, panitia menyatakan dana tersebut akan dikembalikan secara penuh.
Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan informasi mengenai biaya pendaftaran yang berkembang selama pelaksanaan kegiatan.
Klaim Seluruh Agenda Kenal Medan Tuntas
Di tengah dinamika forum Temu Wicara, Mahacala UHO menyatakan seluruh agenda Kenal Medan telah terlaksana sesuai dengan Rencana Operasional Perjalanan (ROP).
Untuk kegiatan gunung hutan, peserta dilaporkan berhasil mencapai puncak Gunung Mekongga di Kabupaten Kolaka Utara, kemudian kembali dengan selamat ke basecamp sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Kendari.
Sementara itu, peserta Kenal Medan Diving melaksanakan transplantasi terumbu karang di Wakatobi sebagai bagian dari kontribusi terhadap pelestarian ekosistem laut.
Adapun peserta Kenal Medan Tebing melaksanakan pemanjatan di Tebing Tenggera Linomoiyo, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara.
Mahacala menyebut keberhasilan agenda lapangan tersebut sebagai bukti bahwa kegiatan Kenal Medan tetap berjalan sesuai rencana, meskipun pelaksanaan forum Temu Wicara diwarnai perbedaan pandangan.
Minta Persoalan Dilihat Secara Proporsional
Menutup pernyataan resminya, Mahacala UHO menyampaikan bahwa kegiatan berskala nasional tidak terlepas dari dinamika dan tantangan.
Panitia menyatakan terbuka terhadap kritik, masukan, dan pandangan dari seluruh peserta.
Namun, Mahacala berharap perbedaan yang muncul tidak mengaburkan tujuan utama TWKM sebagai ruang silaturahmi, pertukaran gagasan, dan penguatan kontribusi organisasi pencinta alam bagi lingkungan Indonesia.
Pernyataan resmi tersebut ditandatangani Ketua Panitia TWKM XXXV Mapala se-Indonesia, Muhammad Kurniawan, di Kendari, Selasa (27/10/2026).
Dengan penjelasan tersebut, Mahacala UHO menegaskan posisinya terkait polemik yang berkembang.
Sementara itu, sejumlah persoalan mendasar dalam forum, terutama mengenai legitimasi pembentukan struktur kepemimpinan Mapala se-Indonesia dan dinamika pengambilan keputusan sidang, menjadi pokok perbedaan pandangan yang perlu dipahami secara utuh oleh seluruh pihak.
